
Tittle: It hurts
Author: Vabia Ayu
Cast: Choi Minho, Krystal Jung, Lee Jinki (Onew)
Other cast: Kwon Yuri, Choi Sulli, Lee Taemin, Luna
Genre: Romance, Drama
NB: Dengerinnya pake lagunya Because of me yang dinyanyiin krystal tuh. Enak bangeeet..
Minho’s POV
KRIIIING
Aku bergegas memasukan buku-buku yang terserak di atas meja ke dalam tasku. Sudah seminggu ini, aku merasa Krystal menghindariku. Setiap aku menyapa, ia langsung membuang mukanya. Bahkan belum menyapa pun, ia sudah buru-buru pergi dari hadapanku. Apa yang kulakukan? Seingatku, aku sudah minta maaf padanya tentang kejadian itu. Dan diapun terlihat baik-baik saja. Apa… Jangan-jangan ia mendengar pembicaraanku bersama Yuri?
“Minho-ah~ Ayo kita pulang bersama.” Panggil Yuri dari luar kelas.
“Ne..”
Yuri langsung merangkul tanganku dan terus berbicara. Aku tidak mendengarkannya melainkan terus melamun. Melamuni…
“YEAAAAHHH!” Aku menoleh kearah suara itu.
“Ya, itu Krystalkan? Apa namja disebelah itu namja chingunya? Jangan-jangan namja itu menembak dan diterimanya! Wah…” Ucap Yuri tersenyum.
Apakah yang dikatakan Yuri itu semua benar? Aku tidak mau..
Krystal terlihat panik dan malu lalu menarik lengan namja itu. “Oppa! Kenapa kau berteriak seperti itu? Malukan!”
Apa? Oppa? Dia memanggilnya Oppa? Dadaku perlahan terasa sakit. Aku ingin sekali menariknya dari namja itu dan membawanya pergi. Tapi aku tak bisa melakukannya. Aku sudah mempunyai yeoja chingu. Aku tak boleh melakukan itu.
~~~
“Kau langsung tidur ya. Annyeong.”
“Ne~ Annyeong Minho-ah. Hati-hati ya. Gomawo sudah mengantarku.” Ia mengecup pipi kiriku lalu masuk ke dalam rumah.
Aku terus berjalan menyusuri rumah demi rumah. Membuat jejak jejak diatas salju yang menutupi jalan. Memandang langit yang terisi oleh bintang dan bulan. Sungguh malam yang indah.
TRILILIIITT TRILIIIIIILIIIIT!!
“Yeobuseyo?”
“Huhuhu.. Oppa…”
“Sulli? Wae? Kau menangis? Waeyo?”
Isakkan tangis Sulli semakin kencang. Ia tak mengatakan apa penyebab dari tangisannya itu meski aku tanya berkali-kali. Hanya menangis.
“Oppa..” Isaknya
“Waeyo?” Balasku.
“Oppa.. Kalau oppa kembali tidak membawakan susu coklat, aku tidak akan membukakan pintu rumah..” Ucapnya dan langsung memutus sambungan teleponnya.
Jadi.. Ia menangis hanya karena ingin minum susu? Dasar aneh.
Mau tidak mau, aku harus mampir ke market dulu untuk beli barang titipan Sulli. Aku tidak mau mati kedinginan.
Kutelusuri rak minuman satu persatu untuk mencari susu yang Sulli minta. Terlihat seorang yeoja yang berjalan membelakangiku sambil menggenggam handphonenya. Awalnya aku tak begitu peduli. Tapi dari belakang ia mirip sekali dengan Krystal sehingga membuatku terus memperhatikannya.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi lalu ia mengangkatnya.
“Ne Unnie? Maaf aku keluar tidak bilang terlebih dahulu..” Suara itu sangat familiar. Ya.. tak lain itu adalah suara Krystal. Ternyata aku memang tidak salah orang.
“Aku hanya ke market sebentar.. Susu dirumah sudah habis. Aku tutup ya unnie telponnya. Annyeong.” Aku mengikutinya perlahan dan menepuk pundaknya.
Ia menoleh kearahku terkejut. “Oppa? Sedang apa disini?”
“Beli susu untuk Sulli. Lalu, kebetulan kita bertemu.” Jawabku.
“Oh.. Kalau begitu, aku duluan ya oppa. Annyeong.” Katanya sambil mengambil satu kotak susu coklat lalu hendak meninggalkanku.
Aku langsung menarik tangannya cepat. Ia kembali menoleh dan terlihat terkejut. Mengapa ia terburu-buru seperti itu? Apa dia menghindariku?
“Kau mau kemana? Kalau mau pulang ayo kita pulang bersama.”
“Ah tidak apa oppa, aku bisa pulang sen—“
“Sudahlah jangan menolak, aku akan mengantarmu.”
“Baiklah..
~~~
“Aku pulang.”
“Oppa.. Mana susunya?” Sambut Sulli memasang wajah cemberutnya dan langsung menyambar susu coklatnya dari tanganku.
“Kenapa kau menangis seperti itu sih? Hanya karena soal susu saja.” Tanyaku sambil membuka jaketku.
“Aku menangis bukan karena itu..”
“Lalu kenapa? Jangan membuat kakakmu ini penasaran.”
“Kau akan tahu sendiri. Dan kau juga akan sepertiku.” Ketusnya sambil meneguk susunya perlahan.
“Ya.. Sopan sekali kau bicara seperti itu padaku.” Kataku mencubit pipinya.
“Biarin.. Lagipula ini semua karenamu tahu. Biar kau tahu rasanya.” Jawabnya sambil membalikkan badannya berjalan ke kamarnya.
Apa maksudnya? Aku tak mengerti.
“Ya Choi Sulli. Beritahu aku apa yang kau maksud tadi!”
“Gamau!”
“BERITAHU AKU SULLI!”
“WALAUPUN AKU BERITAHU, SEMUANYA TETAP AKAN TERJADI! PERCUMA!”
“SUL—“
BRAK!
Ia membanting pintunya keras keras. Terdengar ia kembali menangis bahkan sampai meraung-raung. Sebetulnya ada apa? Mengapa ia tak mau memberitahuku? Dan terlebih, kenapa ia menyalahkanku? Memangnya apa salahku?
~~~
Hari sudah pagi. Aku hendak bangun dari tempat tidurku. Tidak biasanya aku bangun sepagi ini. Mungkin hari ini adalah hari keberuntunganku, makanya Tuhan menyuruhku untuk bangun pagi hehe.
Aku keluar dari kamarku hendak menuju ruang makan untuk sarapan. Kulihat kamar Sulli lalu kuintip kedalamnya. Tumben sekali dia sudah membereskan kamarnya. Mungkin dia ada janji dengan temannya lalu bangun lebih pagi dari biasanya. Tapi.. Jam segini mana ada took yang sudah buka? Masih jam tujuh lewat lima belas…
“Omma.” Panggilku pada omma yang sedang menata sarapan di meja makan.
“Ne?” Jawabnya halus.
“Sulli kemana omma?”
“Ah.. Dia sedang mengantar temannya ke bandara.”
“Eh? Bandara? Siapa?” Tanyaku heran.
“Katanya sih namanya Krystal…” Balasnya.
“HAH? Ngapain dia ke bandara?!”
“Kau tak tahu? Temannya itu akan pindah ke Amerika. Ia akan melanjutkan studynya disana. Tadinya omma ngga ngizinin Sulli buat nganter.. Tapi Sulli tetap maksa. Yaudah omma izinin, soalnya temannya itu bakal menetap disana dan nggak akan balik ke Korea.. Siapa namanya tadi ya? Oh ya, si Krystal itu..”
Aku diam terkejut mematung di tempat. Jadi.. Krystal.. Akan pindah… Dan tak akan kembali? Ah.. Mimpi.. semua ini pasti mimpi.
“Omma, jangan bercanda ah. pasti Sulli lagi kencan sama Taeminkan?” Jawabku dan berharap semua itu hanyalah lelucon.
“Kau ini aneh aneh saja. Buat apa omma bercanda. Tidak ada gunanya.”
Mendengar balasannya aku langsung buru buru menghubungi Sulli. Kucoba menelponnya. Pertama tidak ada jawaban. Keduapun sama. Ketiga…
“Ne?” Jawabnya.
“Sulli?! Kau dimana?!”
“Aku sedang di jalan oppa.. Wae?”
“Kemana?!”
“Oppa tidak teriak teriak bisa ngga sih? Aku—“
“Mengantar Krystal ke bandara?! Apa itu benar?” Potongku.
Tiba – tiba terdengar suara krystal samar samar berbicara “Ya! Kenapa ia tahu kalau kau mengantarku ke bandara?!”
Jadi.. Semua itu benar? Ini bukan mimpi? Mengapa aku merasa sangat kehilangan? Ada apa denganku?
Lagi-lagi mianhae... Aku lagi ngeblank jadi buatnya agak agak ngga nyambung... Maaf NG TT_TT Jangan lupa commentnya di c-box ya chingu :)