Sabtu, 19 Maret 2011

It hurts [Part 3]


Tittle: It hurts

Author: Vabia Ayu

Cast: Choi Minho, Krystal Jung, Lee Jinki (Onew)

Other cast: Kwon Yuri, Choi Sulli, Lee Taemin, Luna

Genre: Romance, Drama


NB: Dengerinnya pake lagunya Because of me yang dinyanyiin krystal tuh. Enak bangeeet..


Krystal’s POV

*flashback*

“Pindah ke Amerika?” Seruku tak percaya.

Ya… Omma dan appa sudah bicarakan hal ini.”

“Tapi Omma, sekolahku bagaimana?”

Appa punya teman, dia pemilik salah satu sekolah terbaik disana. Dan jika kau pindah kesini, dia menerimamu dengan senang hati. Tanpa test kau sudah diterima.” Ujarnya dengan cepat dan jelas.

“Bukannya itu curang Omma? Tapi.. Aku tak mau pindah..” Aku masih ingin disini. Bersama Sulli, Unnie dan terutama… Minho oppa. Aku tak ingin pindah.

Tenang saja. Kau bisa pikirkan ini baik-baik. Jika kau tak mau, itu tidak apa. Kami tidak memaksamu. Omma beri kau waktu dua minggu untuk berpikir. Cukupkan?

“Baiklah Omma.. akan kupikirkan baik-baik. Aku harus mengerjakan tugas sekolahku dulu. Annyeong.” Kumatikan dan kututup handphoneku. Eotteohge? Apa yang harus kulakukan?

TOK TOK TOK

“Ne? Masuk saja..”

“Kau belum tidur Krys?” Tanya Jessica unnie sambil membawakan coklat hangat untukku.

“Gomawo unnie. Belum. Omma baru saja menelponku.” Jawabku sambil meneguk coklat hangat perlahan-lahan.

“Oh iya? Kok hanya menelponmu sih.. akukan juga kangen sama Omma.. Omma ngobrolin apa aja sama kamu Krys?”

“Aku.. Disuruh pindah ke Amerika. Tapi aku—“

“MWO? Kau setuju dengan Omma Krys?! Jangan tinggalkan aku sendiri disini! Aku akan kesepian! Kau juga kan tahu kalau aku paling takut dengan hantu! Kalau aku sendiri bagaimana? Kalau—“

Kupegang pundak unnie agar ia tenang. “Unnie.. Tenang saja, aku tak akan pindah. Mungkin…”

End of flashback

~~~

“Krystaaaal! Ini kubawakan susunya~ Eh sudah mau kembali ke kelas?” Tanya Sulli.

“Gomawo Sulli-ah. Ya, aku sudah ketinggalan dua pelajaran begitu saja. Aku nggak mau ketinggalan lagi. Yuk kita ke kelas.” Kusambar susu yang dipegangnya lalu meminumnya sambil berjalan keluar dari ruang kesehatan.

“Ya Krystal, matamu merah. Kau habis menangis ya?”

“Ne? Tidak kok.. mungkin karena habis tidur tadi.” Jawabku bohong.

“Bohong~ tadi kan matamu tidak merah begitu bangun. Hayo apa yang terjadi saat kutinggal tadi?”

“Nanti saja, aku akan cerita padamu nanti.”

“Yaah~ baiklah.” Balasnya sambil mencibirkan bibirnya.

Aku berjalan hanya diam dan meneguk minumku sambil mendengarkan semua ocehan sulli. Sedang seru mendengarkannya tiba-tiba harus terpotong karena Taemin memanggilnya . Sulli meninggalkanku begitu saja. Dan aku terpaksa berjalan sendiri kekelas. Ah begitu sepinya hidup ini seketika sahabat-sahabatku sudah memiliki orang yang mereka cintai…

“YA! Kenapa akhir-akhir ini kau jadi aneh sih?”

Omo? Itu kan suara Yuri unnie. Ada apa? Karena penasaran aku mengintip dari belakang tembok untuk mendengarkan pembicaraan itu.

“Kenapa kau selalu membawa nama Krystal selagi aku sedang bersamamu? Krystal ini Krystal itu. Krystaaaaaaaal semua yang kau bahas! Apakah kau menyukainya Choi Minho?!”

Mwo? Apa aku tak salah dengar?

“Yuri.. kau salah paham! Aku—“

“Aku apa? Kau menyukainyakan? Kau—“

Tak sempat Yuri unnie menuntaskan perkataannya Minho-oppa sudah memeluknya dan berkata “Aku hanya menganggapnya sebagai adik! Aku tak menganggapnya lebih! Jika kau tak ingin aku berbicara dengannya, akan kulakukan! Aku akan menghindarinya!”

Mendengarnya tegas langsung dari mulutnya dadaku sakit sekali. Sakit.. hanya sakit itu yang bisa kurasakan sekarang. Kusandarkan badanku di dinding dan menundukkan kepalaku. Lagi-lagi air mataku menetes begitu saja. Aku tak mau merasakan sakit ini terus menerus. Aku sudah lelah dengan semua ini. Maka aku putuskan, untuk mengikuti apa yang Omma pinta.

~~~

“Hei. Apakah ini cuma perasaanku saja? Sudah seminggu kuperhatikan setiap kali Minho-oppa menyapamu, kau langsung menghindar darinya. Wae? Waeyo?”

“Aniyo.. Aku tidak menghindarinya. Aku hanya tidak ingin bertemu dengannya.” Balasku berusaha untuk tenang.

“Hooo… baiklah kalau begitu. Aku tak mau tahu. Kalau aku tanya lebih jauh, nanti kamu malah nangis lagi hehehe.” Katanya sambil menunjukan eye smilenya yang indah itu.

“Krystal!” Aku langsung berlari kearah namja yang sedang melambaikan tangannya kearahku. Sulli hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum.

“Jinki! Mianhae.. sudah menunggu lama?” Memang akhir-akhir ini aku selalu diantar-jemput oleh Jinki. Walaupun aku sudah menolaknya untuk tidak melakukan itu, tapi dia tetap melakukannya. Dasar namja aneh…

“Aissshh.. Jangan panggil aku Jinki.. Panggil saja aku Oppa~”

“Tapi… bukannya dulu kau memintaku untuk memanggilmu Jinki saja?”

“Eitsss… Itu kan dulu. Sekarang beda. Panggil aku Oppa.” Jelasnya sambil tersenyum lebar.

“Baiklah op.. op.. pa… Sudah menunggu lama?” Tanyaku malu-malu.

“YEEAAAAHHH!!!” Ia mengangkat kedua tangannya. Semua orang menaruh tatapan matanya kearah kami berdua. Sulli dan Taemin tertawa melihat kami. Dan… namja itu juga memperhatikanku. Ia mengerutkan kedua alisnya terlihat sangat gelisah. Bertolak belakang dengan yeoja chingunya, Yuri unnie yang sedang tersenyum melihatku.

“Oppa! Kenapa kau berteriak seperti itu? Malukan!” Kataku sambil merangkulnya pergi. Ia hanya membalasku dengan tawa kecil dan merangkul pundakku.

~~~

“Yeobuseyo? Sulli-ah? Wae?”

“Krystal! Aku dan Taemin mau pergi ke taman hiburan hari minggu nanti. Ikut yuk!” Pintanya dengan nada yang sangat gembira.

“Ah.. Aku tak mau mengganggu.. Tidak usah deh..” Balasku.

Wae, wae, waeee?? Kau sama sekali tidak mengganggu! Ayo laaah ikut! Ajak Jinki juga!” Rengeknya.

Sulli… Bagaimana aku harus mengatakannya? Hari minggu aku sudah tak ada di sini..

“A..Aku tak bisa..”

“Waeyoo? Kenapa kau tak bisa? Memangnya kau mau kemanaa?”

“Aku tidak akan ada dirumah hari itu..”

“Kau akan pergi? Pergi kemana? Pergilah bersamaku sajaa!” Sudah kubilang, ia akan terus merengek.

“Aku.. Aku akan pindah.. ikut Omma ke Amerika..” Akhirnya kukatakan juga walau berat.

MWO?! Apa aku tak salah dengar? Kau akan pindah? Pindah untuk beberapa hari sajakan?” Tanyanya bingung.

“Tidak.. Mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun.. Ataupun.. aku tak akan kembali..”

Kau.. Bercandakan?”

“Sulli. Apakah aku terdengar seperti sedang bercanda?”

Terdengar suara isakkan tangis kecil Sulli yang sepertinya sangat kaget mendengarku akan pindah. Aku tak bisa apa-apa selain menyuruhnya untuk tidak menangis. Mendengarnya menangis akupun juga ingin menangis.

Mengapa… kau… memutuskan untuk pindah…? Apakah semua ini…. karena Minho oppa…? Apakah benar..?

Aku terdiam. Semua yang ia tanyakan itu benar. Sungguh pengecut. Kabur begitu saja karena tak tahan apa yang kurasakan saat melihatnya bersama yeoja lain. Sungguh pengecut. Melarikan diri dari masalah kecil.

“Sebagian yang kau katakan.. memang benar.. Aku pindah sebagian hal karena Minho oppa.”

Apakah harus kusuruh Minho oppa untuk memutuskan Yuri unnie agar kau tetap tinggal..? Lebih baik Minho oppa bersamamu dibanding dengan Yuri unnie! Akan kulakukan apa saja agar kau tinggal! Huhuhu…

“Jangan Sulli! Aku tak ingin semua itu terjadi! Aku tak ingin merusak hubungan mereka! Mereka putuspun percuma.. Aku tetap akan pindah..”

Tangisan Sulli terdengar semakin keras. Semakin kencang ia menangis. Aku tak tega membiarkannya menangis seperti ini. Tapi keputusan ini sudah kuambil. Aku tak boleh melihat kebelakang lagi. Aku harus melangkah maju.

Krystal…” Panggilnya terisak.

“Ne Sulli-ah..?”

Jangan ambil keputusan ini! Kumohon!

“Tak ada pilihan lain. Aku-“ Kutahan air mataku untuk tidak mengalir.

Tolong Pikirkan dulu baik-baik! Pasti ada jalan keluarnya!“

“Sulli, Aku sudah lelah dengan semua ini.. Biarkan aku.”

Krystal..”

“Aku harus tidur. Sampai besok Sulli-ah… Mimpi indah ya. Berhentilah menangis.” Aku memutuskan sambungannya dan melemparkan tubuhku diatas tempat tidurku.

Maaf Sulli. Aku harus melakukan ini. Mianhaeyo..

End Krystal's POV

-tbc-


Penasaran? Tunggu saja kelanjutannya~ Maaf kalo NG aku emang ga pinter buat fanfic...

Jumat, 18 Maret 2011

It hurts [Part 2]



Tittle: It hurts

Author: Vabia Ayu

Cast: Choi Minho, Krystal Jung, Lee Jinki (Onew)

Other cast: Kwon Yuri, Choi Sulli, Lee Taemin, Luna

Genre: Romance, Drama

NB: Dengerinnya pake lagunya Because of me yang dinyanyiin krystal tuh. Enak bangeeet..


DON'T LIKE MINSTAL? LEAVE


Nobody’s POV

“Gamsahabnida sudah mengantarku Jinki-sshi.” Ujar Krystal sambil membungkukan badannya.

“Aniyo, gwaenchana. Justru aku yang berterima kasih karena kau sudah membiarkanku untuk mengantarmu. Dan satu hal, panggil aku Jinki saja.” Jawabnya sambil memperlihatkan senyumnya yang manis itu.

“ehmm.. oke, Jinki kau mau mampir dulu?”

“Ah tidak usah. Walaupun aku sebenarnya ingin, tapi aku tak bisa. Aku ada janji dengan temanku.”

“Baiklah kalau begitu. Aku tidak bisa memaksamu. Selamat malam Jinki.” Ia berbalik badan hendak membuka pintu pagar. Sebelum ia hendak membukannya, tangannya tertahan oleh tangan Jinki yang menahannya agar tetap ditempat.

Krystal menoleh “Wae—“

Krystal melebarkan matanya lalu terpaku diam. Bibir Jinki sudah mendarat di pipi kiri Krystal. Belum sempat ia memarahi Jinki, Jinki sudah berlari sambil melambaikan tangannya dan berkata “Annyeong Krystal! Mimpikan aku nanti malam ya! Daaaah!”

“Ya! Lihat besok ya! Awas kau JINKI! Aisshh….” Yeoja berambut panjang hitam itu berteriak lalu tersenyum dan mengusap pipinya.

“Benar-benar namja yang unik…”

End Nobody’s POV

~~~

Minho’s POV

“Aku pulang….”

“Oppa! Bagaimana? Sudah mengantar Krystal pulang?” Argh.. Bagus sekali Sulli.. Kau langsung menyambutku dengan pertanyaan itu.

“Namja lain yang mengantarnya. Bukan aku.” Ujarku malas.

Sulli merenggutkan kedua alisnya dan menaruh jari jemari manisnya di bawah dagu “Namja lain? Aaaa… Mungkin namja itu. Sepertinya namja itu menyukainya. Tapi.. Sudahlah~”

“Menyukai? Apa maksudmu?” Sulli tidak menanggapiku melainkan berbalik badan hendak masuk ke kamarnya.

“Ya! Choi Sulli!” Aku menegaskan suaraku. Ia berhenti lalu memandangku sinis.

“Kalau Oppa mau tahu, kenapa tak tanyakan hal itu sendiri kepadanya? Cih.” Ia langsung membuang muka dan masuk ke kamarnya.

End Minho’s POV

Krystal’s POV

“Krystaaaal-aaaah! Bangun bangun! Sudah pagi! Ayo kita berangkat bersama!” kagetnya aku mendengar teriakan itu dan membuka mataku sedikit untuk meyakinkan siapa yang sudah berani mengganggu tidurku.

“Sulli? Waeyo? Kenapa tiba-tiba kau ingin pergi bersama sih?” Kataku sambil bergegas bangun dari tempat tidurku.

“Bukan aku yang meminta untuk pergi bersama, tapi oppa~ ppalli!” Apa? Minho-oppa? Jangan-jangan ia akan memarahiku karena kemarin aku meninggalkannya begitu saja. Eotteohge?

“Ya! Krystal Jung! Ppalli! Mandi cepat-cepaat!!!” Sulli mendorongku kesal melihatku yang hanya berdiri lalu terdiam.

~~~

“Krystal Jung! Cepatlah turun!” Seru Sulli dari lantai bawah.

“Ya Sulli! Siapa yang minta untuk menjemputku heh? Aku tidak mintakan? Jadi sabarlah sedikit!” Balasku kesal.

“Minho-oppa yang minta! Puas? Ppalli! Kita telat nanti!”

Aku turun segera karena tak tahan oleh teriakan Sulli dari lantai bawah. Satu-satunya cara untuk mendiamkannya hanya dengan mengikuti permintaannya. Kalau tidak ia akan terus melakukannya, tidak akan berhenti.

Kami berdua keluar kearah gerbang rumahku diantar oleh kakakku, Jessica unnie. Aku hanya tinggal berdua dengannya karena orangtua kami menetap di Amerika dengan paksaan kerjaan. Jessica unnie tidak ingin pindah karena belum menyelesaikan kuliahnya. Sedangkan aku, aku tidak ingin pindah karena sekolah, sahabat, dan tentu saja. Minho-oppa.

“Lama sekali kalian, ayo cepat masuk mobil.” Aku tertegun mendengar suaranya. Aku hanya bisa menunduk karena takut melihat wajahnya yang terlihat kesal. Ditambah lagi kemarin. Aku kabur begitu saja menarik namja lain bersamaku. Ah tapi buat apa aku peduli? Ia pun tak peduli kalau aku pacaran dengan namja lainkan?

Kami hanya terdiam selama perjalanan. Sulli sibuk memainkan handphonenya, mengajaknya berbicarapun tidak akan berhasil. Ia tidak akan mendengarkan jika sudah serius pada sesuatu. Aku hanya melihat kearah luar jendela, memandangi pertokoan dari dalam mobil.

Tak terasa kamipun sudah sampai di sekolah. Sulli langsung turun dari mobil untuk menyambut Taemin. Saat aku hendak mengikutinya, aku terhalang oleh badan seorang namja. Namja itu menarikku dengan paksa ke belakang gedung sekolah. Ya tak lain namja itu adalah Minho-oppa.

“Ya! Minho-oppa! Lepaskan aku! Sakit!” Aku meronta agar bisa terlepas dari genggamannya. Ia hanya terdiam dan terus menarikku. Bahkan bell sekolah berbunyipun ia tetap menarikku.

“Oppa! Lepas! Sudah bell masuk! Lep--”

Ia menghentikan langkahnya dan berteriak kepadaku “Kau! Kemarin kau kemana hah?”

Aku sangat terkejut. Baru kali ini ada orang yang memarahiku seperti itu. Bahkan ayahku sendiri tak pernah berteriak seperti itu padaku. “Wae?! Itu bukan urusanmu!”

“Bukan urusanku? BUKAN URUSANKU? Ya! Kau tak tahu apa begitu khawatirnya aku padamu kemarin?! Kau pergi begitu saja bersama namja lain selainku!”

“Memangnya kenapa kalau aku pergi bersamanya?! Apakah itu begitu penting untukmu? Memangnya aku tak boleh memiliki namja chingu?!”

“Tidak! Tidak boleh!” Katanya dengan lantang.

Apa maksudnya ia melarangku memiliki namja chingu? Aku bahkan tidak melarangnya berpacaran dengan Yuri unnie. Walaupun aku menyukainya aku tidak melarangnya. Sekarang apa maksudnya melarangku bahkan ia tidak menyukaiku?

“Oppa! Apakah aku melarangmu berpacaran dengan Yuri unnie?! Oppa bahkan tidak menyayangiku! Ya kan oppa?!”

“Aku… Aku… Aku menyayangimu!”

Aku terdiam. Apakah benar ia menyayangiku? “Benarkah… Oppa menyayangiku?”

“Aku.. menyayangimu.. sebagai adik..”

PLAK

Tanganku mendarat dengan kasar di pipinya. Aku tak percaya ia melarangku mempunyai namja chingu karena ia hanya menganggapku sebagai adiknya. Aku meninggalkannya sendiri sementara ia terus memanggil namaku dan kembali mengejarku. Air mataku terus mengalir membasahi pipiku. Hatiku sakit sekali.

Terus. Terus aku berlari sampai akhirnya aku menabrak seorang namja. Namja itu tak lain adalah Jinki. Ia terkejut melihat wajahku yang basah karena air mataku yang tak bisa berhenti meski aku menyuruhnya untuk berhenti. Aku melihat kebelakangku, meyakinkan apakah ia masih mengejarku. Ia hanya berdiri terdiam dan menatapku. Sementara Jinki membimbingku berjalan dan membawaku ke ruang kesehatan.

“Kau tak apa?” katanya sambil menyuruhku duduk.

“Aku tak apa.. Kau.. Cepatlah masuk kelas..” Isakku.

“Hei. Apakah disaat seorang yeoja menangis itu menandakkan semua baik-baik saja? Aku tak akan kekelas. Aku akan menemanimu. Sampai kau merasa tenang.” Ia duduk disebelahku lalu menyandarkan kepalaku di pundaknya lalu memelukku. Aku tak menolaknya dan membiarkannya melakukan itu. Sungguh. Sungguh namja yang baik. Ia tak memaksakanku untuk bercerita apa yang terjadi melainkan menenangkanku.

“Gamsahabnida… Jinki” Aku menatapnya dan mengangkat kepalaku dari bahunya.

“Ne... Teruslah bersender padaku. Sebentar lagi saja.” Aku menuruti perkataannya dan tanpa kusadari aku sudah tertidur lelap.

~~~

“Eunggghh… Gawat.. Jam berapa ini?” Aku mengusap mataku dan terbangun dari tidur.

“Krystal? Sudah bangun? Sekarang sedang istirahat. Kau sudah tertidur sampai jam pelajaran keempat.” Terdengar suara Sulli disebelahku.

“Mwo?! Eotteohge?!”

“Gwaenchana.. Aku sudah minta izin pada guru dan bilang bahwa kau sakit. Mau kubelikan susu?” Tanyanya halus.

“Boleh.. Gomawo Sulli-ah.”

Sulli langsung meninggalkanku dan keluar dari ruang kesehatan. Belum lama Sulli keluar, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Awalnya aku tak peduli siapa yang masuk, tapi…

“Krystal-ah.. Gwaenchana?”

“Err.. Gwaenchana.. Wae?”

Ia segera duduk disebelahku dan menggenggam tanganku. Aku tak meronta dan hanya terdiam mendengarkannya.

“Aku minta maaf… Tidak seharusnya aku melarangmu berjalan dengan namja lain.. Aku begitu egois.. Aku hanya khawatir padamu.. Aku..”

“Aniyo oppa. Aku yang seharusnya minta maaf tiba-tiba kabur begitu saja. Begitupun tadi, menamparmu dengan keras. Maafkan aku oppa.” Begitu mendengar kata kata yang kukeluarkan dari mulutku. Ia mengangguk dan menundukkan kepalanya. Ia menggenggam tanganku erat. Tapi ia langsung melepaskan genggamannya begitu seorang yeoja masuk dan bertanya padaku.

“Krystal! Gwaenchana? Aigoo ada yang sakit?” Perempuan itu tak lain yeoja chingunya, Yuri unnie.

“Ne.. Gwaenchana unnie..”

“Kau harusnya memberitahu kami kalau ada apa-apa! Kau kan sudah kami anggap seperti adik sendiri! Jadi jangan sungkan untuk melakukannya!”

Oh ya.. Aku hanya.. Seorang adik…

“Ne unnie.. Gamsahabnida.. Bolehkah kalian tinggalkan aku? Aku ingin sendiri dulu..” Aku menyuruh mereka keluar agar mereka tak melihat air mataku yang tak bisa kutahan lagi.

Yuri unnie mengangguk dan menyeret Minho-oppa keluar bersamanya. Minho-oppa terlihat berat meninggalkanku tetapi tetap mengikuti berjalan dibelakang Yuri unnie. Aku langsung menundukkan kepalaku lalu menangis terus menerus.

Tuhan.. Apakah sebaiknya aku ikuti kata omma saja?


-tbc-


Hayoo.. Ibunya Krystal ngomong apa tuh? Mau tau kelanjutannya? Tunggu aja yaaa wkwkwkwk

btw maaf ya kalo jelek... Mianhae! Jangan lupa kasih comment ato nggak comment di c-box ku aja hehe

Kamis, 17 Maret 2011

It hurts [Part 1]


Tittle: It hurts

Author: Vabia Ayu

Cast: Choi Minho, Krystal Jung, Lee Jinki (Onew)

Other cast: Kwon Yuri, Choi Sulli, Lee Taemin, Luna

Genre: Romance, Drama


HATE MINSTAL? DON'T READ.


“Jangan ambil keputusan ini! Kumohon!”

“Tak ada pilihan lain. Aku-“ kutahan air mataku untuk tidak mengalir.

“Tolong Pikirkan dulu baik-baik! Pasti ada jalan keluarnya!“

“Sulli, Aku sudah lelah dengan semua ini.. Biarkan aku.”

“Krystal..”

Maaf Sulli. Aku harus melakukan ini. Mianhe..

~~~

Nobody’s POV

“Sulli!!! Apakah kau tahu gantungan kunci ini milik siapa?” Tanya yeoja manis berambut panjang itu.

“Gantungan kunci? Ah! Ini milik Oppa-ku! Dimana kau menemukannya?”

“Aku menemukannya diatas piano saat kita berada di ruang musik tadi.”

“Wah untunglah Krys! Gomawo sudah menemukannya.”

“Sama-sama. Kalau begitu ini.” Yeoja manis itu menyodorkan tangan mungilnya hendak memberikan barang tersebut.

“Eh? Mengapa aku? Kau saja yang berikan!” Tanya Sulli menolak dan mendorong tangan Yeoja yang bernama Krystal Jung itu.

Wajah Krystal memerah dan menjadi gugup. “Err.. Nggak ah, kau saja. Aku—“

“Sudahlah! Aku tahu kau menyukai Oppa-ku! Berikan saja padanya! Ini kesempatan Krys! Jangan dilepaskan begitu saja!” Ujar Sulli sambil mengedipkan mata kanannya mengerti akan perasaan Krystal.

Krystal’s POV

“Baiklah kalau itu maumu.” Jawabku malu.

“Kalau begitu, aku ke kantin dulu ya, sudah ditunggu sama… Kau taulah pastinya! Hehehe, Daah!” Sulli pergi dari hadapanku sambil melambai-lambaikan tangannya. Aku pun berjalan untuk menemuinya, memberikan gantungan kunci ini kepadanya.

Memang, Apa yang dikatakan Choi Sulli itu benar. Aku memang sudah lama menyukai kakaknya semenjak aku masih berada di kelas 7. Kami bertiga- Ah tepatnya berempat bersama Lee Taemin, pacar Sulli, sudah akrab sejak duduk di bangku SMP.

Aku masih ingat saat pertama kali aku bertemu dengannya, aku terjatuh saat berjalan-jalan dengan sepedaku. Karena lokasinya begitu ramai, banyak orang menertawaiku hingga air mataku hampir terjatuh.

Tapi air mataku tertahan karena seorang namja langsung berlari kearahku dan berkata “Jangan menangis.” Ia membopongku dan menempatkanku dengan perlahan di kursi taman yang cukup dekat dengan tempat dimana aku terjatuh tadi. Sejak saat itulah, benih benih cinta pun muncul dan tertanam dihatiku.

Saat itupun juga aku bertemu dengan Sulli, sahabat terbaikku sepanjang masa. Dia yang mengobati lukaku karena namja itu menelponnya dan menyuruhnya membawa perban beserta obatnya karena luka di dengkulku cukup parah.

Dan ya, kita menjadi sahabat sampai sekarang. Aku juga sering menginap di rumahnya. Itu menjadi alasan agar aku dapat bertemu dengannya. Tapi keakrabanku dengannya mulai merenggang sejak…

“Yuri-ah ~ Aku bawakan minuman untukmu.”

“Gomawo Minho-ah~ Saranghae..”

Ya.. Sejak Minho-oppa mendapatkan pendamping sejatinya, Yuri Unnie. Cantik, Pintar, Baik, bahkan idola disekolah ini. Mau apalagi? Minho-oppa sangat mencintainya. Aku hanyalah seorang adik dimatanya. Berharap mereka putuspun… Percuma. Mereka saling mencintai. Yang bisa aku lakukan hanya mendukungnya. Tak lebih.

“Krystal? Sedang apa disini?” Lamunanku buyar mendengar suaranya yang sadar akan kehadiranku.

“Ah.. Oppa.. Ini. Sulli menemukannya dan memintaku untuk memberikannya padamu.”

“Ah! Inikan yang aku cari! Gomawoyo Krystal!” Jantungku berdebar kencang.

Aku menyukainya saat ia memanggil namaku. Aku suka saat senyuman itu ia tunjukan padaku. Aku suka semua tentangnya.

“Gantungan ini? Inikan hadiah yang kuberi dua tahun yang lalu. Aigoo masih disimpan? Kukira sudah hilang!”

Jadi.. Gantungan kunci ini dari… Yuri unnie?

“Tentu saja aku menyimpannya.. Ini barang yang sangat berharga untukku. Gomawo Yuri-ah~”

Aku tak percaya mereka mengatakan itu dihadapanku. Dadaku sangat sakit.. Sakit sekali. Jika tahu gantungan kunci itu pemberian dari Yuri unnie, aku tak akan memberikannya sendiri melainkan aku akan memaksa Sulli untuk memberikannya.

Sungguh, aku ingin membuang barang itu bahkan ingin merusaknya. Tapi aku tak bisa melakukannya. Tidak boleh. Aku harus mendukung mereka.

“Uhm.. Aku.. ke kelas dulu ya.” Kataku membalikkan badan. Aku tak ingin ia melihat wajahku yang perlahan-lahan basah karena air mataku tak bisa kutahan lagi.

“Ah ne. Annyeo—“ Tanpa sempat ia menyelesaikan kata-katanya aku berlari meninggalkannya.

Pabo ya Krystal, Pabo. Mengapa kau terus mencintainya dikala ia sudah mempunyai orang yang berarti baginya? Mengapa kau terus mencintainya tapi kau tahu ini sangat menyakitkan?

“Ya! Krystal-ah! Wae? Waeyo?” melihatku Sulli langsung berlari dan memelukku. Aku hanya membalasnya dengan menatapnya. Sulli langsung mengerti dan menyuruhku untuk tidak menangis.

Tanpa kusadari seorang namja memperhatikanku dari kejauhan. Saat itu aku belum mengetahui namanya.

~~~

Waktu sudah menunjukan pukul jam lima lewat tiga puluh menit. Bell sekolah pun berbunyi menandakan waktu sekolah berakhir. Kumasukan buku-buku kedalam tasku dan bergegas untuk cepat pulang. Aku ingin cepat-cepat pulang dan ingin tidur untuk melupakan semua kejadian tadi. Semua itu hanya membuat dadaku sakit dan tubuhku menjadi lelah.

“Krystaaal!” Lembutnya gadis berambut pirang manis itu memanggilku.

“Ne? Waeyo Luna?” Balasku dengan senyum.

“Ada seorang namja ganteng yang mencarimu~ ppalli~.”

Seorang namja? Siapa? Aku tak begitu dekat dengan namja-namja disekolahku kecuali Minho-oppa dan Taemin. Minho-oppa mencariku? Tidak, tidak mungkin. Taemin? Buat apa dia mencariku? Dia sih menyempatkan diri untuk bertemu Sulli. Setidaknya ia memanggilku untuk menanyakan keberadaan Sulli.

“Krystal Jung?” Panggil seorang namja berdiri tegap didepanku mengeluarkan suara halus dan gentle menanyakan namaku.

“Ne? Nugu…?” Tanyaku dengan ragu. Aku tak pernah melihat namja ini di sekolah. Tapi kuakui dia memang mempunyai wajah yang tampan.

“Maaf belum mengenalkan diri. Lee Jin ki Imnida. Dari kelas 3-1. Salam kenal.” Ia mengulurkan tangannya kepadaku berharap aku menjabat tangannya.

“Krystal Jung Imnida. Ada apa memanggilku?”

“Ah tidak. Kalau tidak keberatan aku ingin berkenalan denganmu lebih dekat. Mau berjalan kedepan gerbang bersama? Kalau kau tidak keberatan juga tak apa. Aku tak memaksa.” Jelasnya dengan lembut.

“Boleh saja.”

Ia terus berbicara dan mengenalkan dirinya lebih jauh. Dimana ia tinggal dan ekskul apa yang ia ikuti disekolah. Terkadang juga menanyakan tentang diriku. Terasa nyaman berbicara dengannya walau baru beberapa menit saja kami berkenalan. Nyaman karena ia tidak menanyakan diriku lebih jauh. Sungguh namja yang asik. Ia juga suka melucu saat kami berbincang yang bisa membuatku tertawa sangat lama.

“Krystal!” Suara itu membuyarkan dan mengacaukan suasana menjadi serius. Jantungku berdebar mendengar suaranya.

“Minho-oppa? Wae?” Sedang apa ia disini? Menungguku? Untuk apa?

“Ayo kita pulang.” Ajaknya. Raut wajahnya berubah. Ia terlihat seperti sangat marah. Apa salahku?

“Apakah Sulli menyuruhmu untuk mengantarku pulang?”

“Begitulah. Ayo.” Ia menarik tanganku cepat.

Oh, jadi karena suruhan Sulli ia akan mengantarku pulang? Terima kasih Sulli, aku tahu kau ingin membantuku, tapi aku tidak ingin diantar karena suruhanmu. Aku ingin ia melakukannya karenaku. Kalau seperti ini dia terlihat terpaksa melakukannya. Buat apa?

Aku mengelak dan melepaskannya. Ia terlihat sangat kaget. Mukanya terlihat sangat marah dan hendak melemparkan kata-kata yang akan menyakitiku. Sebelum ia membuka mulutnya, aku menyambar tangan Jin ki dan berkata “Jika begitu, aku pulang bersama Jin-ki-sshi saja!”

Aku langsung berlari dari hadapannya menarik namja yang berada disebelahku sejak tadi. Terdengar suara Minho-oppa yang berteriak memanggil namaku dan berlari mengejarku. Tapi ia terhenti oleh lampu hijau yang mengganti lampu merah itu dan tak bisa mengikutiku.

Lama berjalan aku tak sadar masih menarik tangan Jin-ki sejak tadi. Ia terus memanggil namaku tetapi aku tak sadar karena terus melamuni wajah namja yang kusukai itu. Karena aku tak mendengarnya memanggilku, ia mencubit pipiku.

“Aduh.. Sakit.” Keluhku sambil mengelus pipi kiriku. Aku menatap wajahnya lalu melirik tanganku yang masih menggenggam tangannya. Aku baru tersadar akan kehadirannya dan melepaskan tangannya dengan segera.

“Mianhe.. Aku—“

“Gwaenchanayo. Sepertinya kau menyukai namja itu ya?”

DEG!

Tepat sasaran. Mukaku memerah dan jantungku mulai berdegup kencang. Aku hanya bisa menunduk dan terdiam. Ia menungguku untuk menjawab tetapi ia tidak memaksaku untuk menjawabnya.

“Sepertinya dari reaksimu kau memang menyukai namja itu. Tidak heran. Dia memang sangat keren bahkan popular dikalangan adik kelas perempuan.” Jawabnya halus sambil mengacak acak rambutnya.

Mendengarnya aku hanya terdiam.

“Krystal-sshi.”

“Ne?”

“Aku tahu kau akan terkejut mendengarnya, tapi… sepertinya ia sudah menyakiti hatimu walau ia tak menyadari kalau ia sedang melakukannya. Daripada kau tersakiti terus menerus, bolehkah kau mencoba menyukaiku?”

Aku sungguh terkejut mendengar perkataannya dan langsung melebarkan mataku. Ia berbicara seakan mengerti dan sudah mengenalku lama. Aku bingung mau menjawab apa. Aku hanya menatapnya. Mau bicarapun percuma, karena aku tak tahu kata kata apa yang akan keluar dari mulutku.

“Hahaha, jangan menatapku seperti itu. Sebenarnya aku sudah suka memperhatikanmu sejak awal tahun kau masuk sekolah ini. Jadi jangan heran. Kau juga tak usah buru-buru menjawabnya. Kau bisa memikirkannya terlebih dahulu agar kau tak menyesal.” Katanya dengan suaranya yang halus itu.

“Ayo kita pulang, sudah sore jadi biar aku antar kau sampai rumah. Jangan menolak karena tak baik sore begini seorang yeoja pulang sendirian.”

Ia menarik tanganku lalu menggandengnya. Sungguh namja yang baik dan mengerti kondisiku sekarang.

Aku membiarkannya tubuhku mengikuti kemana ia pergi. Nyaman perasaanku saat bersamanya. Nyaman sekali.

End Krystal’s POV

Nobody’s POV

Dari kejauhan terlihat mobil hitam yang dikendarai oleh seorang namja. Namja itu terlihat kesal dan marah. Berkali-kali ia memukul tangannya kearah stir mobil yang ia kendarai itu dan kepalanya bersandar diatasnya.

“Kenapa aku seperti ini? Apa yang terjadi padaku? Mengapa ini begitu sakit?” Gumam namja itu sambil memegangi dadanya.

“Krystal..”


-tbc-


Gimana? Kalo jelek maaf ya, maklum baru buat hari ini juga -,- buat lebih mendalami fanficnya, mending sambil dengerin Because of Me nya Krystal aja. Enak tuh hehehe