
Tittle: It hurts
Author: Vabia Ayu
Cast: Choi Minho, Krystal Jung, Lee Jinki (Onew)
Other cast: Kwon Yuri, Choi Sulli, Lee Taemin, Luna
Genre: Romance, Drama
HATE MINSTAL? DON'T READ.
“Jangan ambil keputusan ini! Kumohon!”
“Tak ada pilihan lain. Aku-“ kutahan air mataku untuk tidak mengalir.
“Tolong Pikirkan dulu baik-baik! Pasti ada jalan keluarnya!“
“Sulli, Aku sudah lelah dengan semua ini.. Biarkan aku.”
“Krystal..”
Maaf Sulli. Aku harus melakukan ini. Mianhe..
~~~
Nobody’s POV
“Sulli!!! Apakah kau tahu gantungan kunci ini milik siapa?” Tanya yeoja manis berambut panjang itu.
“Gantungan kunci? Ah! Ini milik Oppa-ku! Dimana kau menemukannya?”
“Aku menemukannya diatas piano saat kita berada di ruang musik tadi.”
“Wah untunglah Krys! Gomawo sudah menemukannya.”
“Sama-sama. Kalau begitu ini.” Yeoja manis itu menyodorkan tangan mungilnya hendak memberikan barang tersebut.
“Eh? Mengapa aku? Kau saja yang berikan!” Tanya Sulli menolak dan mendorong tangan Yeoja yang bernama Krystal Jung itu.
Wajah Krystal memerah dan menjadi gugup. “Err.. Nggak ah, kau saja. Aku—“
“Sudahlah! Aku tahu kau menyukai Oppa-ku! Berikan saja padanya! Ini kesempatan Krys! Jangan dilepaskan begitu saja!” Ujar Sulli sambil mengedipkan mata kanannya mengerti akan perasaan Krystal.
Krystal’s POV
“Baiklah kalau itu maumu.” Jawabku malu.
“Kalau begitu, aku ke kantin dulu ya, sudah ditunggu sama… Kau taulah pastinya! Hehehe, Daah!” Sulli pergi dari hadapanku sambil melambai-lambaikan tangannya. Aku pun berjalan untuk menemuinya, memberikan gantungan kunci ini kepadanya.
Memang, Apa yang dikatakan Choi Sulli itu benar. Aku memang sudah lama menyukai kakaknya semenjak aku masih berada di kelas 7. Kami bertiga- Ah tepatnya berempat bersama Lee Taemin, pacar Sulli, sudah akrab sejak duduk di bangku SMP.
Aku masih ingat saat pertama kali aku bertemu dengannya, aku terjatuh saat berjalan-jalan dengan sepedaku. Karena lokasinya begitu ramai, banyak orang menertawaiku hingga air mataku hampir terjatuh.
Tapi air mataku tertahan karena seorang namja langsung berlari kearahku dan berkata “Jangan menangis.” Ia membopongku dan menempatkanku dengan perlahan di kursi taman yang cukup dekat dengan tempat dimana aku terjatuh tadi. Sejak saat itulah, benih benih cinta pun muncul dan tertanam dihatiku.
Saat itupun juga aku bertemu dengan Sulli, sahabat terbaikku sepanjang masa. Dia yang mengobati lukaku karena namja itu menelponnya dan menyuruhnya membawa perban beserta obatnya karena luka di dengkulku cukup parah.
Dan ya, kita menjadi sahabat sampai sekarang. Aku juga sering menginap di rumahnya. Itu menjadi alasan agar aku dapat bertemu dengannya. Tapi keakrabanku dengannya mulai merenggang sejak…
“Yuri-ah ~ Aku bawakan minuman untukmu.”
“Gomawo Minho-ah~ Saranghae..”
Ya.. Sejak Minho-oppa mendapatkan pendamping sejatinya, Yuri Unnie. Cantik, Pintar, Baik, bahkan idola disekolah ini. Mau apalagi? Minho-oppa sangat mencintainya. Aku hanyalah seorang adik dimatanya. Berharap mereka putuspun… Percuma. Mereka saling mencintai. Yang bisa aku lakukan hanya mendukungnya. Tak lebih.
“Krystal? Sedang apa disini?” Lamunanku buyar mendengar suaranya yang sadar akan kehadiranku.
“Ah.. Oppa.. Ini. Sulli menemukannya dan memintaku untuk memberikannya padamu.”
“Ah! Inikan yang aku cari! Gomawoyo Krystal!” Jantungku berdebar kencang.
Aku menyukainya saat ia memanggil namaku. Aku suka saat senyuman itu ia tunjukan padaku. Aku suka semua tentangnya.
“Gantungan ini? Inikan hadiah yang kuberi dua tahun yang lalu. Aigoo masih disimpan? Kukira sudah hilang!”
Jadi.. Gantungan kunci ini dari… Yuri unnie?
“Tentu saja aku menyimpannya.. Ini barang yang sangat berharga untukku. Gomawo Yuri-ah~”
Aku tak percaya mereka mengatakan itu dihadapanku. Dadaku sangat sakit.. Sakit sekali. Jika tahu gantungan kunci itu pemberian dari Yuri unnie, aku tak akan memberikannya sendiri melainkan aku akan memaksa Sulli untuk memberikannya.
Sungguh, aku ingin membuang barang itu bahkan ingin merusaknya. Tapi aku tak bisa melakukannya. Tidak boleh. Aku harus mendukung mereka.
“Uhm.. Aku.. ke kelas dulu ya.” Kataku membalikkan badan. Aku tak ingin ia melihat wajahku yang perlahan-lahan basah karena air mataku tak bisa kutahan lagi.
“Ah ne. Annyeo—“ Tanpa sempat ia menyelesaikan kata-katanya aku berlari meninggalkannya.
Pabo ya Krystal, Pabo. Mengapa kau terus mencintainya dikala ia sudah mempunyai orang yang berarti baginya? Mengapa kau terus mencintainya tapi kau tahu ini sangat menyakitkan?
“Ya! Krystal-ah! Wae? Waeyo?” melihatku Sulli langsung berlari dan memelukku. Aku hanya membalasnya dengan menatapnya. Sulli langsung mengerti dan menyuruhku untuk tidak menangis.
Tanpa kusadari seorang namja memperhatikanku dari kejauhan. Saat itu aku belum mengetahui namanya.
~~~
Waktu sudah menunjukan pukul jam lima lewat tiga puluh menit. Bell sekolah pun berbunyi menandakan waktu sekolah berakhir. Kumasukan buku-buku kedalam tasku dan bergegas untuk cepat pulang. Aku ingin cepat-cepat pulang dan ingin tidur untuk melupakan semua kejadian tadi. Semua itu hanya membuat dadaku sakit dan tubuhku menjadi lelah.
“Krystaaal!” Lembutnya gadis berambut pirang manis itu memanggilku.
“Ne? Waeyo Luna?” Balasku dengan senyum.
“Ada seorang namja ganteng yang mencarimu~ ppalli~.”
Seorang namja? Siapa? Aku tak begitu dekat dengan namja-namja disekolahku kecuali Minho-oppa dan Taemin. Minho-oppa mencariku? Tidak, tidak mungkin. Taemin? Buat apa dia mencariku? Dia sih menyempatkan diri untuk bertemu Sulli. Setidaknya ia memanggilku untuk menanyakan keberadaan Sulli.
“Krystal Jung?” Panggil seorang namja berdiri tegap didepanku mengeluarkan suara halus dan gentle menanyakan namaku.
“Ne? Nugu…?” Tanyaku dengan ragu. Aku tak pernah melihat namja ini di sekolah. Tapi kuakui dia memang mempunyai wajah yang tampan.
“Maaf belum mengenalkan diri. Lee Jin ki Imnida. Dari kelas 3-1. Salam kenal.” Ia mengulurkan tangannya kepadaku berharap aku menjabat tangannya.
“Krystal Jung Imnida. Ada apa memanggilku?”
“Ah tidak. Kalau tidak keberatan aku ingin berkenalan denganmu lebih dekat. Mau berjalan kedepan gerbang bersama? Kalau kau tidak keberatan juga tak apa. Aku tak memaksa.” Jelasnya dengan lembut.
“Boleh saja.”
Ia terus berbicara dan mengenalkan dirinya lebih jauh. Dimana ia tinggal dan ekskul apa yang ia ikuti disekolah. Terkadang juga menanyakan tentang diriku. Terasa nyaman berbicara dengannya walau baru beberapa menit saja kami berkenalan. Nyaman karena ia tidak menanyakan diriku lebih jauh. Sungguh namja yang asik. Ia juga suka melucu saat kami berbincang yang bisa membuatku tertawa sangat lama.
“Krystal!” Suara itu membuyarkan dan mengacaukan suasana menjadi serius. Jantungku berdebar mendengar suaranya.
“Minho-oppa? Wae?” Sedang apa ia disini? Menungguku? Untuk apa?
“Ayo kita pulang.” Ajaknya. Raut wajahnya berubah. Ia terlihat seperti sangat marah. Apa salahku?
“Apakah Sulli menyuruhmu untuk mengantarku pulang?”
“Begitulah. Ayo.” Ia menarik tanganku cepat.
Oh, jadi karena suruhan Sulli ia akan mengantarku pulang? Terima kasih Sulli, aku tahu kau ingin membantuku, tapi aku tidak ingin diantar karena suruhanmu. Aku ingin ia melakukannya karenaku. Kalau seperti ini dia terlihat terpaksa melakukannya. Buat apa?
Aku mengelak dan melepaskannya. Ia terlihat sangat kaget. Mukanya terlihat sangat marah dan hendak melemparkan kata-kata yang akan menyakitiku. Sebelum ia membuka mulutnya, aku menyambar tangan Jin ki dan berkata “Jika begitu, aku pulang bersama Jin-ki-sshi saja!”
Aku langsung berlari dari hadapannya menarik namja yang berada disebelahku sejak tadi. Terdengar suara Minho-oppa yang berteriak memanggil namaku dan berlari mengejarku. Tapi ia terhenti oleh lampu hijau yang mengganti lampu merah itu dan tak bisa mengikutiku.
Lama berjalan aku tak sadar masih menarik tangan Jin-ki sejak tadi. Ia terus memanggil namaku tetapi aku tak sadar karena terus melamuni wajah namja yang kusukai itu. Karena aku tak mendengarnya memanggilku, ia mencubit pipiku.
“Aduh.. Sakit.” Keluhku sambil mengelus pipi kiriku. Aku menatap wajahnya lalu melirik tanganku yang masih menggenggam tangannya. Aku baru tersadar akan kehadirannya dan melepaskan tangannya dengan segera.
“Mianhe.. Aku—“
“Gwaenchanayo. Sepertinya kau menyukai namja itu ya?”
DEG!
Tepat sasaran. Mukaku memerah dan jantungku mulai berdegup kencang. Aku hanya bisa menunduk dan terdiam. Ia menungguku untuk menjawab tetapi ia tidak memaksaku untuk menjawabnya.
“Sepertinya dari reaksimu kau memang menyukai namja itu. Tidak heran. Dia memang sangat keren bahkan popular dikalangan adik kelas perempuan.” Jawabnya halus sambil mengacak acak rambutnya.
Mendengarnya aku hanya terdiam.
“Krystal-sshi.”
“Ne?”
“Aku tahu kau akan terkejut mendengarnya, tapi… sepertinya ia sudah menyakiti hatimu walau ia tak menyadari kalau ia sedang melakukannya. Daripada kau tersakiti terus menerus, bolehkah kau mencoba menyukaiku?”
Aku sungguh terkejut mendengar perkataannya dan langsung melebarkan mataku. Ia berbicara seakan mengerti dan sudah mengenalku lama. Aku bingung mau menjawab apa. Aku hanya menatapnya. Mau bicarapun percuma, karena aku tak tahu kata kata apa yang akan keluar dari mulutku.
“Hahaha, jangan menatapku seperti itu. Sebenarnya aku sudah suka memperhatikanmu sejak awal tahun kau masuk sekolah ini. Jadi jangan heran. Kau juga tak usah buru-buru menjawabnya. Kau bisa memikirkannya terlebih dahulu agar kau tak menyesal.” Katanya dengan suaranya yang halus itu.
“Ayo kita pulang, sudah sore jadi biar aku antar kau sampai rumah. Jangan menolak karena tak baik sore begini seorang yeoja pulang sendirian.”
Ia menarik tanganku lalu menggandengnya. Sungguh namja yang baik dan mengerti kondisiku sekarang.
Aku membiarkannya tubuhku mengikuti kemana ia pergi. Nyaman perasaanku saat bersamanya. Nyaman sekali.
End Krystal’s POV
Nobody’s POV
Dari kejauhan terlihat mobil hitam yang dikendarai oleh seorang namja. Namja itu terlihat kesal dan marah. Berkali-kali ia memukul tangannya kearah stir mobil yang ia kendarai itu dan kepalanya bersandar diatasnya.
“Kenapa aku seperti ini? Apa yang terjadi padaku? Mengapa ini begitu sakit?” Gumam namja itu sambil memegangi dadanya.
“Krystal..”
-tbc-
Gimana? Kalo jelek maaf ya, maklum baru buat hari ini juga -,- buat lebih mendalami fanficnya, mending sambil dengerin Because of Me nya Krystal aja. Enak tuh hehehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar