
Tittle: It hurts
Author: Vabia Ayu
Cast: Choi Minho, Krystal Jung, Lee Jinki (Onew)
Other cast: Kwon Yuri, Choi Sulli, Lee Taemin, Luna
Genre: Romance, Drama
NB: Dengerinnya pake lagunya Because of me yang dinyanyiin krystal tuh. Enak bangeeet..
DON'T LIKE MINSTAL? LEAVE
Nobody’s POV
“Gamsahabnida sudah mengantarku Jinki-sshi.” Ujar Krystal sambil membungkukan badannya.
“Aniyo, gwaenchana. Justru aku yang berterima kasih karena kau sudah membiarkanku untuk mengantarmu. Dan satu hal, panggil aku Jinki saja.” Jawabnya sambil memperlihatkan senyumnya yang manis itu.
“ehmm.. oke, Jinki kau mau mampir dulu?”
“Ah tidak usah. Walaupun aku sebenarnya ingin, tapi aku tak bisa. Aku ada janji dengan temanku.”
“Baiklah kalau begitu. Aku tidak bisa memaksamu. Selamat malam Jinki.” Ia berbalik badan hendak membuka pintu pagar. Sebelum ia hendak membukannya, tangannya tertahan oleh tangan Jinki yang menahannya agar tetap ditempat.
Krystal menoleh “Wae—“
Krystal melebarkan matanya lalu terpaku diam. Bibir Jinki sudah mendarat di pipi kiri Krystal. Belum sempat ia memarahi Jinki, Jinki sudah berlari sambil melambaikan tangannya dan berkata “Annyeong Krystal! Mimpikan aku nanti malam ya! Daaaah!”
“Ya! Lihat besok ya! Awas kau JINKI! Aisshh….” Yeoja berambut panjang hitam itu berteriak lalu tersenyum dan mengusap pipinya.
“Benar-benar namja yang unik…”
End Nobody’s POV
~~~
Minho’s POV
“Aku pulang….”
“Oppa! Bagaimana? Sudah mengantar Krystal pulang?” Argh.. Bagus sekali Sulli.. Kau langsung menyambutku dengan pertanyaan itu.
“Namja lain yang mengantarnya. Bukan aku.” Ujarku malas.
Sulli merenggutkan kedua alisnya dan menaruh jari jemari manisnya di bawah dagu “Namja lain? Aaaa… Mungkin namja itu. Sepertinya namja itu menyukainya. Tapi.. Sudahlah~”
“Menyukai? Apa maksudmu?” Sulli tidak menanggapiku melainkan berbalik badan hendak masuk ke kamarnya.
“Ya! Choi Sulli!” Aku menegaskan suaraku. Ia berhenti lalu memandangku sinis.
“Kalau Oppa mau tahu, kenapa tak tanyakan hal itu sendiri kepadanya? Cih.” Ia langsung membuang muka dan masuk ke kamarnya.
End Minho’s POV
Krystal’s POV
“Krystaaaal-aaaah! Bangun bangun! Sudah pagi! Ayo kita berangkat bersama!” kagetnya aku mendengar teriakan itu dan membuka mataku sedikit untuk meyakinkan siapa yang sudah berani mengganggu tidurku.
“Sulli? Waeyo? Kenapa tiba-tiba kau ingin pergi bersama sih?” Kataku sambil bergegas bangun dari tempat tidurku.
“Bukan aku yang meminta untuk pergi bersama, tapi oppa~ ppalli!” Apa? Minho-oppa? Jangan-jangan ia akan memarahiku karena kemarin aku meninggalkannya begitu saja. Eotteohge?
“Ya! Krystal Jung! Ppalli! Mandi cepat-cepaat!!!” Sulli mendorongku kesal melihatku yang hanya berdiri lalu terdiam.
~~~
“Krystal Jung! Cepatlah turun!” Seru Sulli dari lantai bawah.
“Ya Sulli! Siapa yang minta untuk menjemputku heh? Aku tidak mintakan? Jadi sabarlah sedikit!” Balasku kesal.
“Minho-oppa yang minta! Puas? Ppalli! Kita telat nanti!”
Aku turun segera karena tak tahan oleh teriakan Sulli dari lantai bawah. Satu-satunya cara untuk mendiamkannya hanya dengan mengikuti permintaannya. Kalau tidak ia akan terus melakukannya, tidak akan berhenti.
Kami berdua keluar kearah gerbang rumahku diantar oleh kakakku, Jessica unnie. Aku hanya tinggal berdua dengannya karena orangtua kami menetap di Amerika dengan paksaan kerjaan. Jessica unnie tidak ingin pindah karena belum menyelesaikan kuliahnya. Sedangkan aku, aku tidak ingin pindah karena sekolah, sahabat, dan tentu saja. Minho-oppa.
“Lama sekali kalian, ayo cepat masuk mobil.” Aku tertegun mendengar suaranya. Aku hanya bisa menunduk karena takut melihat wajahnya yang terlihat kesal. Ditambah lagi kemarin. Aku kabur begitu saja menarik namja lain bersamaku. Ah tapi buat apa aku peduli? Ia pun tak peduli kalau aku pacaran dengan namja lainkan?
Kami hanya terdiam selama perjalanan. Sulli sibuk memainkan handphonenya, mengajaknya berbicarapun tidak akan berhasil. Ia tidak akan mendengarkan jika sudah serius pada sesuatu. Aku hanya melihat kearah luar jendela, memandangi pertokoan dari dalam mobil.
Tak terasa kamipun sudah sampai di sekolah. Sulli langsung turun dari mobil untuk menyambut Taemin. Saat aku hendak mengikutinya, aku terhalang oleh badan seorang namja. Namja itu menarikku dengan paksa ke belakang gedung sekolah. Ya tak lain namja itu adalah Minho-oppa.
“Ya! Minho-oppa! Lepaskan aku! Sakit!” Aku meronta agar bisa terlepas dari genggamannya. Ia hanya terdiam dan terus menarikku. Bahkan bell sekolah berbunyipun ia tetap menarikku.
“Oppa! Lepas! Sudah bell masuk! Lep--”
Ia menghentikan langkahnya dan berteriak kepadaku “Kau! Kemarin kau kemana hah?”
Aku sangat terkejut. Baru kali ini ada orang yang memarahiku seperti itu. Bahkan ayahku sendiri tak pernah berteriak seperti itu padaku. “Wae?! Itu bukan urusanmu!”
“Bukan urusanku? BUKAN URUSANKU? Ya! Kau tak tahu apa begitu khawatirnya aku padamu kemarin?! Kau pergi begitu saja bersama namja lain selainku!”
“Memangnya kenapa kalau aku pergi bersamanya?! Apakah itu begitu penting untukmu? Memangnya aku tak boleh memiliki namja chingu?!”
“Tidak! Tidak boleh!” Katanya dengan lantang.
Apa maksudnya ia melarangku memiliki namja chingu? Aku bahkan tidak melarangnya berpacaran dengan Yuri unnie. Walaupun aku menyukainya aku tidak melarangnya. Sekarang apa maksudnya melarangku bahkan ia tidak menyukaiku?
“Oppa! Apakah aku melarangmu berpacaran dengan Yuri unnie?! Oppa bahkan tidak menyayangiku! Ya kan oppa?!”
“Aku… Aku… Aku menyayangimu!”
Aku terdiam. Apakah benar ia menyayangiku? “Benarkah… Oppa menyayangiku?”
“Aku.. menyayangimu.. sebagai adik..”
PLAK
Tanganku mendarat dengan kasar di pipinya. Aku tak percaya ia melarangku mempunyai namja chingu karena ia hanya menganggapku sebagai adiknya. Aku meninggalkannya sendiri sementara ia terus memanggil namaku dan kembali mengejarku. Air mataku terus mengalir membasahi pipiku. Hatiku sakit sekali.
Terus. Terus aku berlari sampai akhirnya aku menabrak seorang namja. Namja itu tak lain adalah Jinki. Ia terkejut melihat wajahku yang basah karena air mataku yang tak bisa berhenti meski aku menyuruhnya untuk berhenti. Aku melihat kebelakangku, meyakinkan apakah ia masih mengejarku. Ia hanya berdiri terdiam dan menatapku. Sementara Jinki membimbingku berjalan dan membawaku ke ruang kesehatan.
“Kau tak apa?” katanya sambil menyuruhku duduk.
“Aku tak apa.. Kau.. Cepatlah masuk kelas..” Isakku.
“Hei. Apakah disaat seorang yeoja menangis itu menandakkan semua baik-baik saja? Aku tak akan kekelas. Aku akan menemanimu. Sampai kau merasa tenang.” Ia duduk disebelahku lalu menyandarkan kepalaku di pundaknya lalu memelukku. Aku tak menolaknya dan membiarkannya melakukan itu. Sungguh. Sungguh namja yang baik. Ia tak memaksakanku untuk bercerita apa yang terjadi melainkan menenangkanku.
“Gamsahabnida… Jinki” Aku menatapnya dan mengangkat kepalaku dari bahunya.
“Ne... Teruslah bersender padaku. Sebentar lagi saja.” Aku menuruti perkataannya dan tanpa kusadari aku sudah tertidur lelap.
~~~
“Eunggghh… Gawat.. Jam berapa ini?” Aku mengusap mataku dan terbangun dari tidur.
“Krystal? Sudah bangun? Sekarang sedang istirahat. Kau sudah tertidur sampai jam pelajaran keempat.” Terdengar suara Sulli disebelahku.
“Mwo?! Eotteohge?!”
“Gwaenchana.. Aku sudah minta izin pada guru dan bilang bahwa kau sakit. Mau kubelikan susu?” Tanyanya halus.
“Boleh.. Gomawo Sulli-ah.”
Sulli langsung meninggalkanku dan keluar dari ruang kesehatan. Belum lama Sulli keluar, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Awalnya aku tak peduli siapa yang masuk, tapi…
“Krystal-ah.. Gwaenchana?”
“Err.. Gwaenchana.. Wae?”
Ia segera duduk disebelahku dan menggenggam tanganku. Aku tak meronta dan hanya terdiam mendengarkannya.
“Aku minta maaf… Tidak seharusnya aku melarangmu berjalan dengan namja lain.. Aku begitu egois.. Aku hanya khawatir padamu.. Aku..”
“Aniyo oppa. Aku yang seharusnya minta maaf tiba-tiba kabur begitu saja. Begitupun tadi, menamparmu dengan keras. Maafkan aku oppa.” Begitu mendengar kata kata yang kukeluarkan dari mulutku. Ia mengangguk dan menundukkan kepalanya. Ia menggenggam tanganku erat. Tapi ia langsung melepaskan genggamannya begitu seorang yeoja masuk dan bertanya padaku.
“Krystal! Gwaenchana? Aigoo ada yang sakit?” Perempuan itu tak lain yeoja chingunya, Yuri unnie.
“Ne.. Gwaenchana unnie..”
“Kau harusnya memberitahu kami kalau ada apa-apa! Kau kan sudah kami anggap seperti adik sendiri! Jadi jangan sungkan untuk melakukannya!”
Oh ya.. Aku hanya.. Seorang adik…
“Ne unnie.. Gamsahabnida.. Bolehkah kalian tinggalkan aku? Aku ingin sendiri dulu..” Aku menyuruh mereka keluar agar mereka tak melihat air mataku yang tak bisa kutahan lagi.
Yuri unnie mengangguk dan menyeret Minho-oppa keluar bersamanya. Minho-oppa terlihat berat meninggalkanku tetapi tetap mengikuti berjalan dibelakang Yuri unnie. Aku langsung menundukkan kepalaku lalu menangis terus menerus.
Tuhan.. Apakah sebaiknya aku ikuti kata omma saja?
-tbc-
Hayoo.. Ibunya Krystal ngomong apa tuh? Mau tau kelanjutannya? Tunggu aja yaaa wkwkwkwk
btw maaf ya kalo jelek... Mianhae! Jangan lupa kasih comment ato nggak comment di c-box ku aja hehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar